Langsung ke konten utama

MAHAMERU, MAHASERU! - Bagian II


Memulai Pendakian Mahameru

Pukul 7 pagi setelah puas menikmati keindahan Ranu Regulo dan sarapan roti plus segelas susu, kami mulai packing lagi dan bersiap menempuh rundown utama, mendaki Mahameru.

Jalan setapak yang semalam kami lalui ternyata nggak serem-serem amat. Indah malah. Di jalanan setapak itu pula kami berkenalan dengan Bang Attar dan Bang Ridho. Dua sekawan yang ternyata jadi tetangga kami semalam di Ranu Regulo.

“Eh, gue tadi pagi bangun gara-gara lo teriak bagus banget, bagus banget. Pas gue keluar tenda eh iya bener bagus banget. hahaha” (rupanya teriakan kecil saya berhasil membangunkan tetangga sebelah, hahaha)

“Emang iya yak? Haha maaf bang gatau soalnya wkwk,”

Sambil ngobrol dengan Bang Attar, tak terasa kami sudah sampai di basecamp Ranupani. Ternyata Mas Ismu sudah sampai di basecamp bersama rombongannya pagi itu dan mengabari kami lewat nomor Yoga.

“Sampai ketemu di Ranu Kumbolo ya.”Kata Bang Attar

“Iya bang sampai ketemu, hati-hati.”jawabku

Karena Mas Ismu and the genk baru mau briefing, maka kami putuskan untuk janjian di Ranu Kumbolo. Selain itu harus merasakan juga sensasi mendaki bertiga bagaimana meskipun hanya sampai Ranu Kumbolo. Kami bergegas berjalan kaki santai melewati perkebunan warga hingga tak terasa mulai memasuki jalur pendakian.

Hal yang kami senangi dari jalur pendakian Gunung Semeru adalah jalurnya yang berkontur landai. Kita bukan seperti mendaki, tapi berputar mengitari gunung. Buat saya pribadi, jalur pendakian macam itu sangat menyenangkan, selain tidak terjal, kita bisa berjalan santai melirik pemandangan kanan kiri yang indahnya tiada tanding.

Di setiap pos jalur pendakian Gunung Semeru, ada saja warga setempat yang membuat stand jualan gorengan atau buah semangka potongan. Harganya sekitar Rp. 2.500 untuk setiap satu buah semangka atau gorengan. Jajanan hiking ini namanya. Yoga paling doyan jajan gorengan di pos. Padahal gorengannya dingin kaya abis dimasukin kulkas. Tapi dia keliatan enak-enak aja tuh makannya. Saya atau adis paling sering jajan semangka. Bikin adems tenggorokan soalnya hehehe.



Sekitar pukul 13.30 perjalanan landai nan panjang itu menepati janjinya membawa kami ke surganya Gunung Semeru. Penampakan Ranu Kumbolo yang cantik nian bikin semangat dan tenaga kami yang mulai turun seolah kembali terisi penuh. Impian nge-date sama Ranu Kumbolo sudah di depan mata guys, yeaay!!!




Fiuuhhhh ... segala hal yang indah memang butuh perjuangan. Melihat Ranu Kumbolo saja harus kami tempuh dengan berlelah-lelah mendaki selama 6 jam. Waktunya istirahat dan menunaikan ibadah shalat Dzuhur sambil menunggu rombongan mas Ismu tiba.

Tim Kura-kura VS Tim Macan Tutul

Satu jam kemudian, rombongan mas Ismu pun telah tiba. Kami berkenalan satu per satu dengan mereka. Saya lupa jumlah anggota pendakiannya. Mungkin sekitar 9 atau 10 orang. Ada Habib, Asep, Rasyid serta anggota lain yang tak bisa saya sebutkan satu per-satu. Sufi, adalah satu-satunya anggota pendakian yang paling cantik di grup mas Ismu (soalnya dia cewek sendiri hehehe). Sempet kaget juga, kok mereka cepet banget yak sampenya dibandingkan kita, hoalah para pendaki senior nih kayaknya. Kalau diibaratkan itu kami si tim Kura-kura bersanding dengan tim Macan Tutul.

Kami sepakat membangun tenda bersebelahan tepat di depan wajah Ranu Kumbolo (di dalam batas area yang diperbolehkan pengelola). Bergegas kami si grup kura-kura mengeluarkan tenda dari carrier dan mulai merangkainya. Selagi mencoba membangun tenda, kami terperangah dengan kemampuan grup sebelah. Kalau dikira-kira, mereka bisa bikin tenda langsung berdiri sempurna dengan waktu hanya tiga menit. Saya ulangi ya, Cuma tiga menit. Gila ga tuh?! Waktu sesedikit itu buat kami cuma cukup buat masukin lubang ke ujung patok. Akhirnya kami dibantu mas Asep dan mas Ismu bikin tenda dan bimsalabim! Langsung jadiiii...bravo!

Sementara Yoga dan anak cowok lainnya bikin tenda, saya sama Adis cuma senyum-senyum memandangi Ranu Kumbolo. Sebuah tempat impian yang kini jadi kenyataan. Kami pun berpelukan karena saking bahagianya. Tak lama terdengar suara mistis dari belakang,

“Kok aku ga diajak pelukan si teeehhhh ?” (Suara sufi yang mendayu pengen ikutan pelukan juga)

“Oh Sufiii, iya sini-sini sayang ayok ikutan” (tiga cewek alay pelukan depan Ranu Kumbolo. Norak yang asik!)

Ternyata Sufi juga baru pertama kali mendaki Gunung Semeru. Katanya sih sambil ngelupain mantannya gitu soalnya baru aja putus. Hoalah, pasti lupa deh sama mantan kalau pelariannya naik Gunung Semeru. Percayah deh!

Tak lama setelah berpelukan, saya dan Adis bergegas shalat ashar. Sufi hanya menemani karena sedang berhalangan. Setelah wudhu, saya gerai sajadah darurat (plastik trash bag) di bawah sebuah pohon. Baru aja beres pake mukena dan ngelirik ke arah kiri, eeeehhh ternyata oh ternyata ... si pohon rupanya punya ikatan kain putih di batangnya. Tegang deh langsung, duh aduh!

“Pindah-pindah dah jangan di sini.”

“Kenapa pindah?” (Adis masih belum terbangun dari mimpinya)

“udah pindah dulu aja.” (jawaban yang sama sekali ga butuh penyangkalan)

Meski awalnya tegang-tegang dikit, aktivitas ibadah shalat di tepi danau Ranu Kumbolo memberikan sensasi yang luar biasa. Suara gemericik air danau dan burung beriringan. Langit mendung setia berbagi cerita dengan air di muka danau. Cuma batang-batang pinus setia menunggu. Ditenggelamkan air cinta dari sang Ranu Kumbolo.

Teman kuliahku pernah bilang; “Ada sesuatu yang bila dipaksakan akan menjadi baik, yaitu shalat.”

Siang menjadi sore dan sore menjadi malam. Sehabis makan malam kami duduk bersama di tikar dadakan depan tenda. Di sinilah tempatnya orang-orang yang masih punya hidup bertemu dan bercengkrama di bawah langit yang dibedaki bintang-bintang. Kulihat guratan Milky Way berwarna biru keunguan terlukis di angkasa. Sayanglah kami tak bisa berlama-lama karena udara dingin memeluk kian erat. Malam itu, akhirnya kami memilih untuk cepat tidur.

Esok Hari

Empat tahun lamanya pagi yang dinanti itu akhirnya tiba. Pagi yang bersahaja di surganya Gunung Semeru. Tak ada yang lebih manis di lidah selain segelas kopi cappucino. Tak ada yang lebih indah di mata selain semburat fajar di balik Ranu Kumbolo.

Tempat ini bukan sekedar dicipta
Tetapi remah yang dipinjamkan oleh surga

Saya, Adis, Yoga dan kawan-kawan lain tak rela kalau keindahan Ranu Kumbolo hanya ada di dalam ingatan yang penuh dengan keterbatasan. Kami pun berfoto-foto dengan latar belakang air danau yang mulai berwarna keemasan. Tanjakan cinta mulai dijamah oleh cahaya sehinggi rumput-rumputnya tampak kekuningan. Ahhh ... keindahan sejauh mata memandang.










Setelah puas menikmati keindahan Ranu Kumbolo. Kami pun packing dan bergegas melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Pukul 10 perjalanan kami dimulai dengan menapaki tanjakan cinta. Kalau dari kejauhan, tampaknya melewati tanjakan cinta bukanlah hal sulit. Ya, memang. Kalau tidak pakai carrier tentu jauh lebih mudah. Tapi kalau sambil gendong carrier yang bentuknya seperti karung beras, menaiki tanjakan cinta sukses bikin napas engap-engapan.




Tapi yah, menaiki tanjakan cinta akan menjadi pekerjaan yang takkan pernah sia-sia. Karena sehabis berlelah ria membawa beban, ada oro-oro ombo sebagai hadiah perdamaian dari Gunung Semeru. Ahhh ... lelah kami tak ada artinya dengan semua hadiah-hadiah ini.








Oro-oro ombo adalah remah surga lainnya yang jatuh di Mahameru. Hamparan bunga Verbena Brasiliensis keunguan yang dibelah jalan setapak membiarkan menjadi jalan kami lewat. Panas terik matahari tak membuat kami ingin buru-buru berteduh. Tak apa-apa kepanasan, asal di tempat seindah ini. Sungguh tak apa-apa.

Sampai di pos Cemoro Kandang yang letaknya tak jauh dari oro-oro ombo, kami beristirahat sejenak sambil membeli semangka. Hampir setiap pos pendakian Mahameru terdapat penjual yang menjajakan semangka atau gorengan.




Kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos jambangan. Pelan tapi pasti kami menyusuri jalur dengan pemandangan menawan. Sesekali, kami melewati pepohonan dengan semak berbunga kuning di perjalanan. Di beberapa titik, jalanan sempit nan menanjak cukup menguras tenaga.

Sekitar 3 jam perjalanan, kami sampai di pos Jambangan dan beristirahat sejenak. Dari Pos Jambangan, puncak mahameru yang berpasir mulai nampak jelas kelihatan gagahnya. Pikiran saya melayang, “Besok pagi kakiku berpijak di sana. Tunggu saja.”


Dok. pribadi dari kamera Yoga
Jarak dari Pos Jambangan ke Kalimati tidak begitu jauh. Sekitar 1 jam perjalanan kami sudah sampai di pos Kalimati dan mencari spot untuk mendirikan tenda. Tenda kami dan tenda mas ismu bersebelahan. Di sana cukup banyak tenda yang sudah berjejer. Terdengar suara dari music box yang diputar cukup keras oleh salah seorang pendaki yang sedang bersantai. Suara musik yang keras mungkin bisa didengar oleh semua orang di pos Kalimati.




Di Pos Kalimati, sumber air cukup jauh. Letaknya ada di lembah dan aliran airnya kecil. Kami harus menempuh jarak sekitar 30-45 menit perjalanan hanya untuk mengambil air. Jalannya naik turun. Sayang, saya tak sempat mengambil foto lokasi mata air di Kalimati. Nuansa di lokasi mata air Kalimati itu terbilang lumayan creepy. Ada dua tebing tinggi menjulang, kalau sore hari, cahaya matahari tak bisa masuk dengan sempurna. Selain itu, kami harus mengantri cukup lama karena harus menunggu yang lain dengan sabar memenuhi isi botol dengan mata air yang kecil.

Sesuai dengan peraturan ketika briefing adalah kita tidak boleh berada di sekitar sini lebih dari jam 5 sore karena biasanya banyak binatang yang pergi ke mata air untuk minum. Jadi gantian gitu deh. Kalau saya si memang nggak mau di sana sampai kemalaman, serius deh emang creepy gitu suasananya.

Selesai mengambil air, kami pun bergegas memasak makan malam agar bisa tidur cepat. Setelah berdiskusi dengan tim mas Ismu dan pendaki lain, kami sepakat untuk memulai pendakian menuju puncak Mahameru pukul 11 malam. Sufi tidak summit karena sedang haid. Tapi ia tidak sendirian. Ia ditemani oleh salah satu teman Mas Ismu.

Di Pos Kalimati juga terdapat jamban sementara yang bisa digunakan pendaki agar tak BAB sembarangan. Tapi seriously, bertahan lima menit saja di jamban tersebut sudah merupakan prestasi luar biasa. Sepertinya tak usah dijelaskan lagi kondisinya seperti apa ya. Tapi syukurlah jamban 'luar biasa' itu mungkin punya pemandangan paling indah sedunia di depannya.





Pukul 11 malam itu pun akhirnya tiba. Kepala saya agak pusing sebenarnya, mungkin karena kurang tidur. Di tengah udara dingin yang menusuk kami pun briefing sebentar dan membagi persediaan air. Saya memakai jaket double tapi dinginnya tetap terasa. Kaki saya lumayan hangat tapi tangan kedinginan karena tidak memakai sarung tangan berbahan polar. Salah satu hal yang cukup disesali.

Satu catatan penting ketika summit ke puncak Mahameru adalah kita tidak diperbolehkan membawa beban barang yang berlebihan. Cukup membawa air dan sedikit persediaan makanan. Terlalu berbahaya untuk membawa banyak barang karena keseimbangan mendaki puncak Mahameru haruslah dijaga mati-matian.

Dengan bismillah, kami pun memulai perjalanan di tengah malam bertabur bintang itu. Membelah hutan yang jalannya terus menanjak. Sesekali suara hewan yang entah hewan apa terdengar mampir di telinga. Berjalan di tengah hutan tengah malam buat saya terasa lebih berat. Pertama karena ngantuk, pastinya. Kedua, karena kita berebut oksigen dengan pohon-pohon di hutan. Seperti yang kita ketahui kalau pohon menyerap oksigen pada malam hari. Sehingga kami merasa cepat lelah ketika mendaki pada malam hari. Saya tak heran dengan Adis yang cukup sering minta break.

Satu hal yang tidak boleh dipaksakan ketika mendaki adalah terus melangkah padahal sudah sangat lelah tapi malu mau bilang. Tapi alhamdulillah, ketika badan sedang lelah-lelahnya, Bang Attar izin buang air besar. Udara dingin menusuk seperti malam itu memang mudah membuat siapapun tiba-tiba ingin BAB. Saya pun menjaga perut supaya tetap hangat. Karena buat saya, BAB tengah malam di curamnya jalur pendakian bukanlah pilihan menarik.

10 menit kemudian kami melanjutkan perjalanan. Tenaga sudah lumayan pulih. Setelah beberapa jam mendaki membelah hutan, kami sampai di Arcopodo. Sedikit pengetahuan tentang Arcopodo pun berhasil mempengaruhi pikiran saya yang lumayan parno-an. Konon, alasan tempat ini dinamakan Arcopodo adalah karena dahulu terdapat arca kembar yang kini dikabarkan hilang. Arca ini biasa dicari oleh orang-orang dengan tujuan tertentu. Hanya orang-orang punya kelebihan yang konon bisa melihat arca kembar ini. Kalau punya kelebihan, saya berharap kelebihan itu berupa pintar memasak atau pintar matematika saja. Tak bisa melihat Arcopodo pun sungguh tak apa-apa.

Belum selesai ketegangan saya ketika mulai memasuki Arcopodo, ketegangan lain bertambah dengan bertemunya kami dengan batu nisan yang tertanam di samping jalur pendakian. Katanya, nisan itu merupakan simbolis orang yang meninggal ketika mendaki Mahameru. Adanya batu nisan tersebut juga merupakan upaya menyadarkan pendaki bahwa mendaki gunung bukan sekedar urusan main-main. Apalagi menuju puncak Mahameru yang notabene tidak dilegalkan oleh pihak Taman Nasional. Berani mendaki Mahameru juga harus berarti berani menanggung segala akibatnya.

Aktivis politik legendaris Gie pun kabarnya meninggal di puncak Mahameru karena menghidup gas beracun. Abunya di tebar di sana. Abu manusia yang berjasa mendirikan organisasi Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) pertama di Indonesia.

Tak lama, sampailah kami di batas vegetasi Mahameru. Sudah tak lagi terlihat pohon-pohon. Hanya ada jalan menanjak berpasir dan berbatu yang tersinari cahaya headlamp. Di atas sana kelap kelip senter dari pendaki lain pun mewarnai jalur pendakian. Kelompok kami jalan berurutan. Adis di depan bersama sebagian tim Mas Ismu, saya di tengah dan Yoga di belakang beserta anggota tim Mas Ismu yang lain.

Baiklah. Pendakian sebenarnya baru saja dimulai ...



10 Agustus 2016, tiga sekawan bersama beberapa teman baru mereka hampir sampai di puncak tertinggi pulau Jawa. Selangkah demi selangkah, kaki kami berkelahi melawan pasir dan kerikil yang terus menyeret turun. Lelah luar biasa mendera. Nafas sempit sesak. Udara dingin menusuk dan mencuri kadar oksigen di kepala.

Energi di dalam tubuh rasanya sudah sampai di titik penghabisannya. Namun puncak Mahameru masih jauh terjamah. Terus naik akan jadi pilihan yang sangat sulit, namun melangkah mundur juga bukan pilihan yang lebih baik.

Perjalanan berat di titik tengah batas vegetasi Mahameru perlahan rupanya menciptakan jarak di antara kami bertiga. Jalan curam berpasir didukung keadaan minim cahaya secara tak sengaja memisahkan kami satu sama lain. Kami menanjak medan terjal itu sendiri-sendiri, menyantu dengan rombongan lain. Dan saya, ada di urutan terakhir.

Pelan tapi pasti, ada sesuatu yang lain di hati saya. Rasa amarah rupanya menginjak puncaknya terlebih dulu. Mungkin karena lelah luar biasa ditambah berpisah dari teman seperjuangan.

Tahukah kamu bahwa pada titik inilah hati rawan merasakan baper? Kecewa karena kami tak bisa menginjak puncak bersama-sama. Prasangka buruk karena merasa ditinggal teman padahal sudah berjanji tidak boleh terpisah satu sama lain. Dan pada kenyataannya kami semua saling mencari.

Faktanya, kami bertiga berhasil menapakkan kaki di sana walau tak sempat berfoto karena efek baper dan hampir hipotermia. Saya tak banyak bicara karena lidah terasa begitu kelu. Kami bertemu di puncak Mahameru meski dengan saling terdiam. Rupanya minimnya kadar oksigen di kepala mempengaruhi Emotional Quotient (EQ) kami.

Tak kuat karena hipotermia hampir bertamu ke dalam tubuh, kami bergegas turun kembali. Tak sempat berfoto tak apa, yang penting kami bisa kembali dengan selamat. Itu akan jadi oleh-oleh terbaik untuk kembali dibawa pulang.

Tak ada bukti fisik yang pasti tentang pencapaian berharga berdiri di atas puncak tertinggi Jawa. Namun debu-debu di baju dan sepatu akan setia jadi saksinya. Tak sempat berfoto tak apa. Namun, momen indah itu masih tersimpan rapi di dalam laci kenangan saya. Shalat subuh berjamaah bersama dua orang teman baru di curamnya jalur pendakian puncak Mahameru menjadi salah satu momen ibadah paling indah.

Langit jingga menyeruak membakar langit pekat sampai menyala, laut Jawa megah terpampang di sebelah kanan, dan samudera awan asik bergelombang di bagian kiri badan. Sedang bukit berundak berebut cahaya matahari jelas di bagian depan.

Tubuh kami memang terpisah di menit-menit menakjubkan itu. Namun pandangan kami sama-sama terpaku di satu titik. Keindahan pagi itu kami simpan di kotak memori masing-masing.
Jika tak ada foto sebagai kenangan, selalu ada ingatan hasil ciptaan Tuhan yang lebih canggih untuk mengabadikan, bukan?
...
Terima kasih Mahameru.
Kau kuras tenaga, pikiran hingga perasaan kami.
Namun tak ada yang kusesali.
Asal kau izinkan kami kembali.
...
10 Agustus 2016 yang takkan terlupakan.

















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Curug Cikuluwung, Wisata Baru di Bogor yang Ngeri-ngeri Sedap!

Ngadem ngapa ngadem. Diem-diem bae hehehe Bumi sejenak menawarkan hangatnya matahari dan birunya langit dalam beberapa hari. Aaaahhh, enaknya sih ke tempat yang adem-adem. Apalagi di Bogor Barat, tempat wisata alamnya banyak gituuuhhh. Kebetulan ada wisata baru, saya bersama Muty pun menyempatkan diri untuk berwisata ke sana. Nama wisatanya adalah Curug Cikuluwung.
Kalau biasanya saya akan berkisah dari berangkat sampai pulang tentang perjalanan wisata yang baru saja dilakukan, kali ini saya cuma akan jawab pertanyaan saja. Pertanyaan yang setelah saya renungkan di tengah kamar yang berantakan mengenai informasi apa yang sekiranya dibutuhkan pembaca. To the point edition. Oke, kita mulai saja ya?
Apa keistimewaan Curug Cikuluwung?
Setelah beberapa kali mengunjungi fenomena air terjun di Bogor mulai dari curug yang katanya ‘ngumpet’ tapi ternyata nggak ngumpet sama sekali sampai curug yang betul-betul butuh perjuangan untuk mencapainya, buat saya Curug Cikuluwung cukup istimewa karena loka…

Wisata Ranggon Hills, Surganya Spot Instagramable di Kota Bogor

Wisata Bogor memang nggak ada matinya!
Beda manusia, beda pula caranya berbahagia. Termasuk bahagia dengan cara berswafoto di lokasi yang dianggap instagramable sehingga bisa mempercantik feed social media khususnya instajram, eh instagram maksudnya. Hal ini menyebabkan wisata yang konon instagramable ramai diserbu masyarakat belakangan ini.

Go to the main topic. Saya ingin memperkenalkan kepada sahabat (yang belum tahu) sebuah tempat wisata baru bernama Ranggon Hills, magnet wisata Bogor terbaru di kawasan wisata Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS)  Kabupaten Bogor. Salah satu wisata asyik yang menawarkan sensasi berfoto dari atas ketinggian.
Sejujurnya, saya sudah tiga kali ke Ranggon Hills, namun baru kali ketiga pergi dengan cuaca yang sangat cerah. Bersama dua saudara perempuan saya dari Jakarta yang sedang berlibur di Bogor, Aida dan Santi, kami bertiga berangkat pukul enam pagi dari rumah saya di Desa Cibening Kecamatan Pamijahan (sekitar 10 Km menuju wisata Ranggon Hills)…

Seenak Apa Sih Makanan Korea???

Annyeong Haseyo???  Mugi-mugi daramang sadayana. Hehehe :D

Huuuhhh nyoba-nyoba kuliner luar negeri memang agak tricky ya teman-teman, apalagi kita yang notabene dari kecil dicekokin makanan Indonesia khususnya makanan Sunda. Nasi liwet, lalab, sayur asem sama ikan asin udah akrab banget di lidah. Tapi kali ini lidah saya harus dibawa keluar zona nyamannya sebagai LISA (Lidah Sunda Asli) dengan mencoba makanan Korea. Sebenarnya ini bukan pertama kali makan makanan Korea, tapi yasudahlah, tak ada kata terlambat untuk menuliskan sesuatu. Akhirnya saya pergi ke Mujigae bersama Sisca, Raster dan Robi, salah satu restoran makanan Korea terfavorit di Jabodetabek.
Sebenarnya keinginan berburu makanan Korea tak lepas dari seringnya saya nonton film Korea akhir-akhir ini, film yang saya dapat dari Sisca, teman kuliah yang dengan senang hati mentransfer sampai puluhan film Korea sekali pertemuan. Sering adanya adegan makan di dalam film mau nggak mau mengenalkan kita akan makanan khas negara ginse…