Langsung ke konten utama

Postingan

Two Germany Girls in Tawangalun Train

Kereta Tawangalun jurusan Stasiun Rogojampi, Banyuwangi – Stasiun Malang Kota Baru mempertemukan kami dengan teman perjalanan yang tidak biasa. Seat 2-2 tersebut membuat kami bersua dengan dua orang wanita Jerman yang hendak liburan ke Batu, Malang. Dua orang perempuan yang mencurahkan 7 minggu dalam hidupnya untuk terbang bebas menjelajahi bumi Indonesia.
“I think it’s long enough.” Kata saya.
“Yeah, hahaha.” Kata mereka disertai sedikit tawa.
Kami tak banyak bicara, selayaknya ‘orang asing’ pada umumnya. Sampai tiba di suatu menit, saya dan Adis membuka sekotak bolu gulung yang dibekali saudaranya yang baik sekali. Sebagai warga Indonesia yang dikenal ramah, rasanya tak baik merusak citra bangsa dengan tidak ikut serta menawari mereka. #ceilehhh
“Do you want?” Saya menawari.
“What is it?”
“This is roll cake. Please, take it.”
Mereka terlihat agak ragu pada awalnya. Mungkin memang belum tentu keputusan baik menerima makanan dari orang asing.
“It’s ok. You can try it first.” Kata saya.
Mereka …
Postingan terbaru

Mr. Nanang, Penjual Cincau yang Jago 4 Bahasa

"I learn everything." Begitu kata Mr. Nanang, salah seorang penjual es cincau kelapa muda di Jl. Padjajaran Kota Bogor.
Mr. Nanang bukan penjual es cincau biasa. Sudah jadi rahasia umum kalau kemampuannya berbahasa Inggris, Spanyol, Belanda dan Jerman berhasil menarik perhatian banyak orang termasuk saya. Meskipun ia ada masalah dengan pengucapan sehingga kadang perkataan bahasa asingnya agak sulit dimengerti, binar matanya tetap terpancar dan kepercayaan dirinya patut jadi juara.
"I learn from books." katanya saat ditanya dari mana ia belajar semua bahasa itu. Kemampuannya berbahasa asing juga terlatih dari pengalamannya selama 14 tahun menjadi tour guide berkeliling Indonesia.
Ia juga menjelaskan kekagumannya pada seorang Kahlil Ghibran dan mahakaryanya yg berjudul 'Sayap-sayap Patah'. "I am regeneration of Kahlil Ghibran, trust it!", Candanya.
Selain berjualan cincau, Mr. Nanang juga menjadi guru di sebuah SMP dan SMK di Kota Bogor. Ia mengajar Mat…

Filosofi Kopi Jogja

Bagi seorang first timer, mengomentari cita rasa kopi rasanya hal yang terlalu berani. Apalagi bicara soal filosofi rasanya, yang keluar paling cuma bau kentut.
Tapi di rumah seduh Filosofi Kopi Jogja, si first timer berusaha meracik sedikit kesimpulan lewat ‘pertunjukan’ di meja sebelahnya.
Sebuah keluarga rupanya sedang berkumpul bersama. Style mereka necis, tampak betul dari keluarga berada. Sang ayah bertubuh gagah. Si ibu tampak glamour bersama baju yang dilihat dari Tugu Jogja sekalipun kelihatan mahalnya. Anak-anaknya sudah pasti, tak kalah keren.
Sekilas, semuanya terlihat sempurna sampai si first timer sadar bahwa ada kepincangan di sana. Percayalah, bahwa mereka tak sering saling bicara satu sama lain. Hampir semuanya sibuk dengan gawai masing-masing. Paling lepas hanya sebentar untuk menyeruput kopi dan makan camilan. Dari apa yang dilihatnya, si first timer mengerti satu hal.
Bahwa sejatinya filosofi dari kopi bukan cuma terletak dari kepiawaian lidah manusia dalam menyesap ra…

Mbah Sis, ‘Permata’ Cantik di Pasar Prawirotaman Yogyakarta

Sebuah bentuk kebutuhan akan penyegaran. Untuk mengembalikan apa yang dirasanya hilang, untuk menutup apa yang disebutnya lubang.
Langit 22 Juni 2018 di Yogyakarta hangat seperti biasanya. Semburat cahaya matahari di jendela sebuah kamar kos mungil di dekat Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) membangunkan dua orang yang masih bermalas-malasan di kasur hingga pukul 7 pagi. Hari itu sebetulnya belum jelas mau pergi ke mana, pergi melihat-lihat ke Pasar Prawirotaman menjadi pilihan karena kami memang belum punya rencana apa-apa. Ditambah, katanya di sana ada Mbah Sis, seorang penjual jamu peras yang pernah satu frame dengan Nicholas Saputra di film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2).
Pukul 8 kami bersiap untuk pergi. Jalanan Yogyakarta yang lengang dengan gradasi kekuningan ala pagi hari terasa begitu cantik. Kami melaju dengan pelan berteman sese-embak Google Map yang bicara di balik headset. Ternyata, Prawirotaman hanya memakan waktu jarak tempuh sekitar 15 menit menggunakan motor dari UK…

[Kuliner Bogor] Yummy! Nikmatnya Nasi Uduk Ayam Bakar Resep Oma di Waroenk Talubi

Sampurasuuun Bogorian! Siapa nih yang sering melancong ke pusat kuliner Kota Bogor di Jalan Surya Kencana? Nah sudah tahu belum kalau di sana ada primadona kuliner baru yang akan menggoyang lidah kita karena kenikmatan menunya yang bisa dibilang ... “Lain ... dari pada ... yang ... lain” (sambil niruin gaya Feni Rose hahaha)

Adalah Waroenk Talubi, sebuah restoran yang menyajikan menu andalan Nasi Uduk Ayam Bakar Talubi yang  merupakan resep leluhur lebih dari 100 tahun dan diwariskan secara turun temurun kepada cucu-cucu sang OMA. Waroenk Talubi merupakan cabang bisnis dari Bika Bogor Talubi (oleh-oleh khas bogor) yang terlebih dulu populer sejak tahun 2014.
“Hmmm, by the way OMA itu siapa ya?”
Jadi, OMA adalah buyut dari sang Owner yang merupakan kreator di balik menu-menu istimewa di Waroenk Talubi. Masakan sang OMA yang sangat enak menginspirasi cucu-cucunya untuk membangun sebuah restoran agar banyak orang yang juga bisa merasakan menu-menu kreasi beliau yang nikmat. Berdirinya Waro…