Langsung ke konten utama

Postingan

Belajar Seni Melepaskan dari Gobind Vashdev Part I

Sumber foto : treindonesia Mendengarkan podcast, hobi baruku hampir setahun belakangan ini untuk mengisi waktu luang. Kadang kuputar sambil bersiap menuju tempat kerja atau sambil setrika baju, berkebun atau bahkan sambil masak. Salah satu podcast yang paling banyak kuputar adalah Podcast Inspigo : Inspiration on the Go dengan tema random mulai dari karir, percintaan, finansial dan lain-lain tapi tema kesukaanku adalah tentang Mindfulness. Podcast bagiku sangat membantu membuka perspektif-perspektif baru dan berlatih memahami ide dan sudut pandang orang lain yang mungkin bisa turut mempengaruhi sudut pandang kita. Salah satu yang paling berkesan bagiku adalah Podcast dengan narasumber Gobind Vashdev, seorang pria berdarah india yang berprofesi sebagai penulis dan pelatih self healing. Dia sebetulnya lebih senang dipanggil sebagai Heartworker atau pekerja hati. Aku tak tahu siapa dia sebetulnya. Baru kenalan dengannya 2 hari yang lalu ketika aku mendengarkan Inspigo sambil ber...

Pujangga dari Aceh

Hidup gak kaya ya santai aja Yang penting jiwa masih merdeka Hidup gak punya cinta ya santai aja Gak maksa gila lemesin aja Kau harus ingat woo..o..o cuma dunia Dan ingat woo..o..o santai aja Sering di sakiti cuma dunia Gak perlu ambisi santai aja Eh dan jadi orang gila saat mimpi tak sampaikan Dan kau merasa tak adil Tak bisa dapatkan semua isi dunia Kau tak perlu lihat awan hitam Tapi jadikan patokan jiwa Dan tenanglah pandang dasar bumi Hingga lapisan terbawah Nikmat mana lagi yang kini coba dustakan Dan bila di hitung lagi tak terhingga Cuma Dunia – SMVLL Aku tak pernah tau lagu itu, hingga pada akhirnya aku mengenalnya dengan salah satu cara yang paling tak disangka. Tanggal 27 Juni 2019 waktu itu, subuhku dibangunkan oleh lagu ini. Lagu yang merupakan bunyi alarm seorang kawan baru yang akan tidur sekamar denganku selama 15 hari ke depan. “Hidup nggak kayaaaa ya santai aja”, nyaring sekali terdengar tanpa intro sama sekali lalu membangunkan ku dar...

Tamparan di Februari

Februari tahun 2020 waktu itu baru menginjak beberapa hari. Pukul 3 pagi ketika sedang tidur nyenyak di kamar kontrakan di Lampung, handphoneku ditelpon berkali-kali. Oleh siapa? Oleh saudaraku di Jakarta. Tertera nama “Kak Fitri” beserta keterangan beberapa panggilan tidak terjawab. Namun getar tanpa suara itu berhasil membangunkanku. Kak Fitri chat di whatsapp. “Zah, Ayah masuk rumah sakit .” Terbelalak mataku melihat pesan itu, aku ingin memastikan bahwa pesan itu benar dan bukan mimpi. Selama ini Ayah tak pernah sekalipun dirawat di rumah sakit dan kabar itu begitu mengagetkanku. Tak lama handphoneku berdering kembali. Satu deringan langsung kujawab. “Zah, tengah malam Ayah kena serangan jantung. Sekarang di rumah sakit sama A Kumar.” “ya ALLAH beneran kak? Kok bisaaa?” “Iya abis dari rumah temannya terus pingsan gitu aja.” Lalu kutelpon nomor ayah yang rupanya sedang dipegang A Kumar. Telpon kualihkan jadi Video Call tak lama setelah A Kumar mengangkat. Berun...

Kebun dan Filosofi Bertumbuh

Pagi ini aku menanam beberapa tanaman obat di pekarangan belakang rumah. Sudah 9 bulan aku di Lampung dan kepulanganku tak disambut   tanaman sayur apapun di halaman rumah. Meskipun begitu, aku bersyukur pekarangan rumahku masih hijau oleh tanaman hias koleksi Ayah dan beberapa jenis pohon buah. Kebun dan embun, adalah hal yang kurindukan selama di Lampung. Kontrakanku di sana tak punya pekarangan luas. Ada pun pekarangan tanahnya begitu gersang dan berpasir. Aku diberi kenikmatan pemandangan parkiran truck besar yang berjajar persis di samping kamarku. Setiap pagi mereka menggerung, membangunkan dan mengusir pagiku yang damai. Sudah cukup lama aku punya kecintaan terhadap tanaman. Mungkin sudah dari kecil. Aku sangat ingat dulu waktu kecil pernah diajak almarhum Bapak pagi-pagi ke kebun untuk memanen wortel, tomat dan buncis. Belum mandi, tapi begitu bersemangat. Aku masih ingat aroma itu, wangi daun tomat berselimut embun di pagi hari. Aroma yang aku suka sampai sekaran...

Revolusi Makna Traveling

Dari dulu, aku senang sekali jalan-jalan dan aku selalu menyasar tempat bagus dan keren untuk berfoto. Tapi ada satu hal, aku tak suka tempat keren yang dibuat oleh manusia macam spot-spot instagrammable. Bagiku keindahan itu tak lagi natural, penuh buatan. Aku lebih suka pegunungan, pantai dan apapun itu yang berbau alam, yang masih eksotis dan tak punya banyak kepalsuan. Tujuan traveling bagiku dulu adalah tentu untuk refreshing dan salah satu yang utama adalah berburu foto bagus. Yup! Aku adalah seorang budak konten waktu itu. Segala hal akan kupotret dan aku punya standar kesempurnaan khusus untuk hasil fotoku. Hal ini diperparah dengan hobi fotografiku. Ini membuat waktu travelingku banyak tersita untuk mengambil gambar dan tanpa sadar, aku banyak kehilangan kenikmatan yang sesungguhnya yaitu menikmati keberadaanku di tempat itu sendiri. Aku jalan-jalan untuk berfoto. Beberapa tahun berselang setelah kuliah dan perjalanan telah membawaku bertemu dengan banyak tempa...

Kampung Bebak dan Mitos Air Kelapa Keramat

Maret 2019, satu tahun yang lalu, aku berkesempatan mengadakan pengabdian masyarakat selama 10 hari di salah satu daerah 3T (Terluar, Terdepan dan Tertinggal) tepatnya di Pulau Mapur, Bintan, Kepulauan Riau. Laut di sana sudah berbatasan dengan laut negara tetangga yaitu Singapura. Waktu itu aku mendapatkan tanggung jawab untuk menjadi koordinator divisi lingkungan. Kesempatan yang begitu istimewa bagiku. Dapat kesempatan berbagi ilmu sekaligus jalan-jalan secara gratis. Waktu itu aku berangkat bersama 14 orang lainnya sudah termasuk panitia. Satu dari 10 hari selama di sana, kami habiskan di salah satu kampung kecil yang ada di pulau Mapur. Untuk menuju ke sana kami harus menempuh jarak naik pompong (perahu kecil) untuk menyusuri pinggir pulau Mapur selama 1 jam, karena kalau lewat darat jalannya begitu jelek dan tidak bisa lewat mobil. Kami bawa banyak barang, tak memungkinkan jika jalur darat. Kampung Bebak adalah kampung paling kecil di Pulau Mapur, aku lupa jumlah pe...

Menjalani Perjalanan

Semua ada massanya, kata Raka Satiap akhir adalah awal untuk sesuatu yang baru, kata Sasmita Tak usah berlebihan, kata Amanda Namun kita manusia, memberi rasa pada kejadian adalah sewajarnya, kata hatiku April 2020, aku sampai (lagi) di persimpangan yang baru setelah 9 bulan perjalanan singkat sekaligus panjang berhasil tidak berhasil, melahirkan aku yang baru, semoga. Juli, 2019 aku pertama kalinya pergi pamit keluar pulau Jawa bukan untuk traveling tapi merantau ke tanah Sumatera, tepatnya ke Provinsi Lampung. There is always a first time untuk setiap hal termasuk merantau bagiku. Aku pergi membawa bekal bayang-bayang yang terbentuk dari cerita teman-teman yang sudah pernah melakukannya. Hidup penuh keterbatasan namun ditawarkan keluarga dan saudara-saudara baru, rasa rindu akan keluarga dan kota kelahiran akan siap jadi hantu, serta bayangan-bayangan lain yang tak bisa kujabarkan satu-satu. Bagaimana rasanya merantau? Hmm, sebetulnya aku bingung kalimat...